Dari Imran bin Hushain r.a., Sesungguhnya Nabi S.A.W. telah bersabda:
"Lakukanlah solat dangan berdiri, jika tidak kuasa, lakukanlah dengan duduk, jika tidak kuasa, lakukanlah dengan berbaring dan jika tidak kuasa, maka dengan isyarat."
(Hadis riwayat Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahawa solat harus dilakukan menurut kekuatannya. Jika masih kuat berdiri maka harus dengan berdiri, jika tidak kuat, dengan duduk, jika tidak kuat, dengan berbaring dan jika masih tidak kuat, dengan memberi isyarat.
Memahami isi hadis ini dapat dimengerti bahawa agama tidak menekan umatnya melainkan menurut batas kemampuannya dan solat adalah wajib didirikan walau dalam keadaan bagaimanpun.
Monday, June 10, 2013
TANGISAN AIR MATA RASULULLAH S.A.W.
Dari Ubaidullah bin Umair rahimahullah, suatu saat dia pernah bertanya kepada Aisyah radhiyallahu’anha, “Kabarkanlah kepada kami tentang sesuatu yang pernah engkau lihat yang paling membuatmu kagum pada diri Rasulullah S.A.W.?”.
Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’
Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’
Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bahagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggutnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena titisan air mata]!”.
Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan azan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah S.A.W menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’.
Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya malam tadi telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh malang orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! iaitu ayat (yang artinya),
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pertukaran malam dan siang, sungguh terdapat ayat-ayat (tanda-tanda) bagi 'ulul albab' (ahli fikir).” (QS. Ali Imran : 190).”
(Hadis Riwayat. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).
Maka ‘Asiyah pun terdiam lalu mengatakan, “Pada suatu malam, beliau (nabi) berkata, ‘Wahai Aisyah, biarkanlah malam ini aku sendirian untuk beribadah kepada Rabbku.’
Maka aku katakan, ‘Demi Allah, sesungguhnya saya sangat senang dekat dengan anda. Namun saya juga merasa senang apa yang membuat anda senang.’
Aisyah menceritakan, ‘Kemudian beliau bangkit lalu bersuci dan kemudian mengerjakan shalat.’ Aisyah berkata, ‘Beliau terus menerus menangis sampai-sampai basahlah bahagian depan pakaian beliau!’. Aisyah mengatakan, ‘Ketika beliau duduk [dalam shalat] maka beliau masih terus menangis sampai-sampai jenggutnya pun basah oleh air mata!’. Aisyah melanjutkan, ‘Kemudian beliau terus menangis sampai tanah [tempat beliau shalat] pun menjadi ikut basah [karena titisan air mata]!”.
Lalu datanglah Bilal untuk mengumandangkan azan shalat (Subuh). Ketika dia melihat Rasulullah S.A.W menangis, Bilal pun berkata, ‘Wahai Rasulullah, anda menangis? Padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu maupun yang akan datang?!’.
Maka Nabi pun menjawab, ‘Apakah aku tidak ingin menjadi hamba yang pandai bersyukur?! Sesungguhnya malam tadi telah turun sebuah ayat kepadaku, sungguh malang orang yang tidak membacanya dan tidak merenungi kandungannya! iaitu ayat (yang artinya),
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pertukaran malam dan siang, sungguh terdapat ayat-ayat (tanda-tanda) bagi 'ulul albab' (ahli fikir).” (QS. Ali Imran : 190).”
(Hadis Riwayat. Ibnu Hiban [2/386] dan selainnya. Disahihkan Syaikh al-Albani dalam Sahih at-Targhib [1468] dan ash-Shahihah [68]).
DOSA YANG PALING MENGERIKAN
Rasulullah S.A.W. pernah bertanya kepada para sahabatnya, “Maukah kamu aku kabarkan tentang dosa-dosa yang paling besar ?” (beliau ulangi pertanyaan itu tiga kali) Maka para sahabat menjawab, “Mau ya Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Berbuat syirik terhadap Allah dan derhaka kepada kedua orang tua…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Rasulullah S.A.W. bersabda,”Dosa paling besar adalah engkau mengangkat sekutu bagi Allah padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata : Syirik bermakna nashib (bagian) hal itu terjadi apabila ada sesuatu selain Allah yang dipersekutukan bersama-Nya maka itu bererti dia telah memberikan bagian (ibadah) kepada selain-Nya. Syirik menjadi larangan terbesar karena hak paling agung adalah hak Allah ta’ala. Sedangkan hak Allah ta’ala adalah diesakan dalam hal ibadah. Oleh sebab itu apabila seseorang mempersekutukan Allah dengan selain-Nya maka dia telah menyia-nyiakan hak yang paling agung. (Hushulul ma’mul, hal. 47)
Syirik Akbar
Syirik akbar adalah perbuatan atau keyakinan yang membuat pelakunya keluar dari Islam. Bentuknya ialah dengan menujukan salah satu peribadatan (lahir maupun batin) kepada selain Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, berkorban untuk jin, dan sebagainya. Apabila ia meninggal dan belum bertaubat maka akan kekal berada di dalam neraka.
Jenis-jenis syirik akbar :
Syirik dalam hal do’a
Iaitu perbuatan memanjatkan permohonan kepada selain Allah disamping kepada Allah.
Allah ta’ala berfirman yang ertinya,“Apabila mereka menaiki kapal (dan terombang-ambing di tengah samudera) maka merekapun berdo’a kepada Allah dengan ikhlas (tidak syirik sebagaimana ketika dalam kondisi tentram di darat). Kemudian tatkala Kami selamatkan mereka ke daratan maka merekapun berbuat syirik.” (QS. Al-‘Ankabuut : 65)
Termasuk kategori syirik ini adalah : meminta perlindungan (isti’adzah) kepada selain Allah dalam perkara yang hanya dikuasai oleh Allah, meminta pertolongan (isti’anah) kepada selain Allah, meminta dihilangkan bala (istighatsah) kepada selain Allah..
Syirik dalam hal niat dan keinginan
Iaitu melakukan suatu amal ibadah dengan niat karena selain Allah. Seperti orang yang beramal akhirat semata-mata untuk meraih keuntungan duniawi.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Barangsiapa yang mengharapkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka Kami akan penuhi keinginan mereka dengan membalas amal itu di dunia untuk mereka dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak meraih apa-apa ketika di akhirat melainkan siksa neraka dan lenyaplah semua amal yang mereka perbuat selama di dunia dan sia-sialah segala amal usaha mereka.” (QS. Huud : 15-16)
Syirik dalam hal ketaatan
Iaitu mentaati selain Allah untuk berbuat durhaka kepada Allah. Seperti contohnya mengikuti para tokoh dalam hal mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah.
Allah ta’ala berfirman yang ertinya,“Mereka telah menjadikan para pendeta (ahli ilmu) dan rahib (ahli ibadah) mereka sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah, begitu pula (mereka sembah) Al Masih putera Maryam. Padahal mereka itu tidak disuruh melainkan supaya menyembah sesembahan yang satu. Tidak ada sesembahan yang hak selain Dia, Maha suci Dia (Allah) dari segala bentuk perbutan syirik yang mereka lakukan.” (QS. At-Taubah : 31)
Syirik dalam hal kecintaan
Iaitu mensejajarkan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Dan di antara manusia ada orang yang mengangkat sekutu-sekutu selain Allah yang mereka cintai sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)
Kalau mensejajarkan cintanya kepada selain Allah dengan cintanya kepada Allah saja sudah begitu besar dosanya, lalu bagaimana lagi jika seseorang justru lebih mencintai pujaannya lebih dalam daripada kecintaannya kepada Allah ? Lalu bagaimana lagi orang yang sama sekali tidak menaruh rasa cinta kepada Allah ?!
Syirik Ashghar
Syirik ashghar iaitu perbuatan atau keyakinan yang mengurangi keutuhan tauhid. Apabila seseorang terjerumus di dalamnya maka dia menanggung dosa yang sangat besar, bahkan dosa besar yang terbesar di bawah tingkatan syirik akbar dan di atas dosa-dosa besar lain seperti mencuri dan berzina. Namun orang yang melakukannya tidak sampai keluar dari Islam. Dan apabila meninggal dalam keadaan berbuat syirik ashghar ini maka pelakunya termasuk orang yang diancam tidak diampuni dosanya dan terancam dijatuhi siksaan di neraka, meskipun tidak akan kekal di sana. Syirik ashghar ini terbagi menjadi syirik zhahir (jelas kelihatan) dan syirik khafi (tersembunyi/samar)
Syirik zahir
Jenis ini meliputi ucapan dan perbuatan yang menjadi sarana menuju syirik akbar. Atau boleh juga diertikan dengan ucapan dan perbuatan yang disebut sebagai syirik oleh dalil-dalil syari’at akan tetapi tidak mencapai tingkatan tandid/persekutuan secara mutlak. Contohnya adalah : bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah.
Rasulullah S.A.W. bersabda,“Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Tirmidzi, beliau (Tirmidzi) menghasankannya, dan dishahihkan juga oleh Al-Hakim)
Contoh lainnya adalah : mengatakan maa syaa’a Allahu wa syi’ta (apa pun yang Allah kehendaki dan yang kamu inginkan). Ketika ada seseorang yang mengatakan ucapan itu kepada beliau, maka Rasulullah S.A.W. marah dan bersabda,“Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah ?! Katakanlah Apa pun yang Allah kehendaki, cukup itu saja” (HR. Nasa’i)
Atau mengatakan : ‘Seandainya bukan karena doktor maka saya tidak akan sembuh’, dan lain sebagainya. Adapun yang berupa perbuatan ialah seperti memakai azimat untuk tolak bala apabila meyakininya sebagai sebab perantara saja untuk mewujudkan keinginannya. Akan tetapi jika dia meyakininya sebagai faktor utama penentu tercapainya tujuan maka status perbuatan itu berubah menjadi syirik akbar dan mengeluarkan pelakunya dari lingkaran Islam.
Syirik khafi
Jenis ini terletak di dalam gerak-gerik hati manusia. Ia dapat berujud rasa ingin dilihat dan menginginkan pujian orang dalam beramal (riya’) atau ingin didengar (sum’ah). Seperti contohnya; membagus-baguskan gerakan atau bacaan shalat karena mengetahui ada orang yang memperhatikannya. Contoh lainnya adalah bersedekah karena ingin dipuji, berjihad karena ingin dijuluki pemberani, membaca Qur’an karena ingin disebut Qari’, mengajarkan ilmu karena ingin disebut sebagi ‘alim, dll. Dengan catatan dia masih mengharapkan keridhaan Allah dari perbuatannya itu. Amal yang tercampuri syirik semacam ini tidak akan diterima oleh Allah. Dan apabila ternyata dia hanya mencari tujuan-tujuan hina itu maka perbuatan yang secara lahir berupa amal shalih itu telah berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana halnya riya’nya orang munafik.
Rasulullah S.A.W. pernah bersabda,“Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Maka beliau pun ditanya tentangnya. Sehingga beliau menjawab,“Iaitu riya’/ingin dilihat dan dipuji orang.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 951 dan Shahihul Jami’ no. 1551)
Rasulullah S.A.W. bersabda,“Binasalah hamba dinar, hamba dirham, hamba Khamishah, hamba Khamilah. Jika dia diberi maka dia senang tapi kalau tidak diberi maka dia murka. Binasa dan amat merugilah dia..” (HR. Bukhari) (lihat At-Tauhid li shaffits tsalits al ‘aali, hal. 11-12)
Rasulullah S.A.W. bersabda,”Dosa paling besar adalah engkau mengangkat sekutu bagi Allah padahal Dia-lah yang menciptakanmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan berkata : Syirik bermakna nashib (bagian) hal itu terjadi apabila ada sesuatu selain Allah yang dipersekutukan bersama-Nya maka itu bererti dia telah memberikan bagian (ibadah) kepada selain-Nya. Syirik menjadi larangan terbesar karena hak paling agung adalah hak Allah ta’ala. Sedangkan hak Allah ta’ala adalah diesakan dalam hal ibadah. Oleh sebab itu apabila seseorang mempersekutukan Allah dengan selain-Nya maka dia telah menyia-nyiakan hak yang paling agung. (Hushulul ma’mul, hal. 47)
Syirik Akbar
Syirik akbar adalah perbuatan atau keyakinan yang membuat pelakunya keluar dari Islam. Bentuknya ialah dengan menujukan salah satu peribadatan (lahir maupun batin) kepada selain Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah, berkorban untuk jin, dan sebagainya. Apabila ia meninggal dan belum bertaubat maka akan kekal berada di dalam neraka.
Jenis-jenis syirik akbar :
Syirik dalam hal do’a
Iaitu perbuatan memanjatkan permohonan kepada selain Allah disamping kepada Allah.
Allah ta’ala berfirman yang ertinya,“Apabila mereka menaiki kapal (dan terombang-ambing di tengah samudera) maka merekapun berdo’a kepada Allah dengan ikhlas (tidak syirik sebagaimana ketika dalam kondisi tentram di darat). Kemudian tatkala Kami selamatkan mereka ke daratan maka merekapun berbuat syirik.” (QS. Al-‘Ankabuut : 65)
Termasuk kategori syirik ini adalah : meminta perlindungan (isti’adzah) kepada selain Allah dalam perkara yang hanya dikuasai oleh Allah, meminta pertolongan (isti’anah) kepada selain Allah, meminta dihilangkan bala (istighatsah) kepada selain Allah..
Syirik dalam hal niat dan keinginan
Iaitu melakukan suatu amal ibadah dengan niat karena selain Allah. Seperti orang yang beramal akhirat semata-mata untuk meraih keuntungan duniawi.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Barangsiapa yang mengharapkan kehidupan dunia dan perhiasannya maka Kami akan penuhi keinginan mereka dengan membalas amal itu di dunia untuk mereka dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak meraih apa-apa ketika di akhirat melainkan siksa neraka dan lenyaplah semua amal yang mereka perbuat selama di dunia dan sia-sialah segala amal usaha mereka.” (QS. Huud : 15-16)
Syirik dalam hal ketaatan
Iaitu mentaati selain Allah untuk berbuat durhaka kepada Allah. Seperti contohnya mengikuti para tokoh dalam hal mengharamkan apa yang dihalalkan Allah atau menghalalkan apa yang diharamkan Allah.
Allah ta’ala berfirman yang ertinya,“Mereka telah menjadikan para pendeta (ahli ilmu) dan rahib (ahli ibadah) mereka sebagai sesembahan-sesembahan selain Allah, begitu pula (mereka sembah) Al Masih putera Maryam. Padahal mereka itu tidak disuruh melainkan supaya menyembah sesembahan yang satu. Tidak ada sesembahan yang hak selain Dia, Maha suci Dia (Allah) dari segala bentuk perbutan syirik yang mereka lakukan.” (QS. At-Taubah : 31)
Syirik dalam hal kecintaan
Iaitu mensejajarkan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.
Allah ta’ala berfirman yang artinya,“Dan di antara manusia ada orang yang mengangkat sekutu-sekutu selain Allah yang mereka cintai sebagaimana kecintaan mereka kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah : 165)
Kalau mensejajarkan cintanya kepada selain Allah dengan cintanya kepada Allah saja sudah begitu besar dosanya, lalu bagaimana lagi jika seseorang justru lebih mencintai pujaannya lebih dalam daripada kecintaannya kepada Allah ? Lalu bagaimana lagi orang yang sama sekali tidak menaruh rasa cinta kepada Allah ?!
Syirik Ashghar
Syirik ashghar iaitu perbuatan atau keyakinan yang mengurangi keutuhan tauhid. Apabila seseorang terjerumus di dalamnya maka dia menanggung dosa yang sangat besar, bahkan dosa besar yang terbesar di bawah tingkatan syirik akbar dan di atas dosa-dosa besar lain seperti mencuri dan berzina. Namun orang yang melakukannya tidak sampai keluar dari Islam. Dan apabila meninggal dalam keadaan berbuat syirik ashghar ini maka pelakunya termasuk orang yang diancam tidak diampuni dosanya dan terancam dijatuhi siksaan di neraka, meskipun tidak akan kekal di sana. Syirik ashghar ini terbagi menjadi syirik zhahir (jelas kelihatan) dan syirik khafi (tersembunyi/samar)
Syirik zahir
Jenis ini meliputi ucapan dan perbuatan yang menjadi sarana menuju syirik akbar. Atau boleh juga diertikan dengan ucapan dan perbuatan yang disebut sebagai syirik oleh dalil-dalil syari’at akan tetapi tidak mencapai tingkatan tandid/persekutuan secara mutlak. Contohnya adalah : bersumpah dengan menggunakan selain nama Allah.
Rasulullah S.A.W. bersabda,“Barangsiapa yang bersumpah dengan menyebut selain nama Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik.” (HR. Tirmidzi, beliau (Tirmidzi) menghasankannya, dan dishahihkan juga oleh Al-Hakim)
Contoh lainnya adalah : mengatakan maa syaa’a Allahu wa syi’ta (apa pun yang Allah kehendaki dan yang kamu inginkan). Ketika ada seseorang yang mengatakan ucapan itu kepada beliau, maka Rasulullah S.A.W. marah dan bersabda,“Apakah engkau hendak menjadikan aku sebagai sekutu bagi Allah ?! Katakanlah Apa pun yang Allah kehendaki, cukup itu saja” (HR. Nasa’i)
Atau mengatakan : ‘Seandainya bukan karena doktor maka saya tidak akan sembuh’, dan lain sebagainya. Adapun yang berupa perbuatan ialah seperti memakai azimat untuk tolak bala apabila meyakininya sebagai sebab perantara saja untuk mewujudkan keinginannya. Akan tetapi jika dia meyakininya sebagai faktor utama penentu tercapainya tujuan maka status perbuatan itu berubah menjadi syirik akbar dan mengeluarkan pelakunya dari lingkaran Islam.
Syirik khafi
Jenis ini terletak di dalam gerak-gerik hati manusia. Ia dapat berujud rasa ingin dilihat dan menginginkan pujian orang dalam beramal (riya’) atau ingin didengar (sum’ah). Seperti contohnya; membagus-baguskan gerakan atau bacaan shalat karena mengetahui ada orang yang memperhatikannya. Contoh lainnya adalah bersedekah karena ingin dipuji, berjihad karena ingin dijuluki pemberani, membaca Qur’an karena ingin disebut Qari’, mengajarkan ilmu karena ingin disebut sebagi ‘alim, dll. Dengan catatan dia masih mengharapkan keridhaan Allah dari perbuatannya itu. Amal yang tercampuri syirik semacam ini tidak akan diterima oleh Allah. Dan apabila ternyata dia hanya mencari tujuan-tujuan hina itu maka perbuatan yang secara lahir berupa amal shalih itu telah berubah menjadi syirik akbar, sebagaimana halnya riya’nya orang munafik.
Rasulullah S.A.W. pernah bersabda,“Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Maka beliau pun ditanya tentangnya. Sehingga beliau menjawab,“Iaitu riya’/ingin dilihat dan dipuji orang.” (HR. Ahmad, dishahihkan Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 951 dan Shahihul Jami’ no. 1551)
Rasulullah S.A.W. bersabda,“Binasalah hamba dinar, hamba dirham, hamba Khamishah, hamba Khamilah. Jika dia diberi maka dia senang tapi kalau tidak diberi maka dia murka. Binasa dan amat merugilah dia..” (HR. Bukhari) (lihat At-Tauhid li shaffits tsalits al ‘aali, hal. 11-12)
TANGISAN RASULULLAH KERANA WANITA ::
✿~ Perempuan yang memakan badannya sendiri ialah perempuan TIDAK MAHU MANDI setelah HAID DAN NIFAS juga kerana ia BERHIAS UNTUK LELAKI BUKAN SUAMINYA dan suka MENGUMPAT ORANG..
✿~ Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka kerana ia MEMPERKENALKAN DIRINYA kepada orang asing, BERSOLEK dan berhias supaya kecantikannya dilihat lelaki lain
✿~ Perempuan kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah AHLI PENGUMPAT DAN PENDUSTA..
✿~ Perempuan rupanya seperti anjing ialah perempuan yang suka MEMBUAT FITNAH dan MEMBENCI SUAMINYA...
✿~ Perempuan tergantung rambutnya itu adalah perempuan yang TIDAK MENUTUP RAMBUTNYA daripada BUKAN MAHRAMNYA..
✿~ Perempuan tergantung lidahnya ialah perempuan yang menggunakan lidahnya untuk MEMAKI DAN MENYAKITI HATI SUAMINYA..
✿~ Perempuan yang digantung susunya adalah perempuan yang MENYUSUKAN ANAK ORANG LAIN TANPA Pengetahuan SUAMINYA..
✿~ Perempuan kedua kakinya tergantung itu ialah perempuan yang KELUAR DARI RUMAH TANPA IZIN SUAMINYA..
✿~ Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api neraka kerana ia MEMPERKENALKAN DIRINYA kepada orang asing, BERSOLEK dan berhias supaya kecantikannya dilihat lelaki lain
✿~ Perempuan kepalanya seperti babi dan badannya seperti himar ialah AHLI PENGUMPAT DAN PENDUSTA..
✿~ Perempuan rupanya seperti anjing ialah perempuan yang suka MEMBUAT FITNAH dan MEMBENCI SUAMINYA...
✿~ Perempuan tergantung rambutnya itu adalah perempuan yang TIDAK MENUTUP RAMBUTNYA daripada BUKAN MAHRAMNYA..
✿~ Perempuan tergantung lidahnya ialah perempuan yang menggunakan lidahnya untuk MEMAKI DAN MENYAKITI HATI SUAMINYA..
✿~ Perempuan yang digantung susunya adalah perempuan yang MENYUSUKAN ANAK ORANG LAIN TANPA Pengetahuan SUAMINYA..
✿~ Perempuan kedua kakinya tergantung itu ialah perempuan yang KELUAR DARI RUMAH TANPA IZIN SUAMINYA..
Sunday, June 9, 2013
KISAH BERKAT DI SEBALIK MEMBACA BISMILLAH
KISAH BERKAT DI SEBALIK MEMBACA BISMILLAH
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajipan agama dan tidak mahu berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."
Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.
Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.
Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.
Ada seorang perempuan tua yang taat beragama, tetapi suaminya seorang yang fasik dan tidak mahu mengerjakan kewajipan agama dan tidak mahu berbuat kebaikan.
Perempuan itu sentiasa membaca Bismillah setiap kali hendak bercakap dan setiap kali dia hendak memulakan sesuatu sentiasa didahului dengan Bismillah. Suaminya tidak suka dengan sikap isterinya dan sentiasa memperolok-olokkan isterinya.
Suaminya berkata sambil mengejak, "Asyik Bismillah, Bismillah. Sekejap-sekejap Bismillah."
Isterinya tidak berkata apa-apa sebaliknya dia berdoa kepada Allah S.W.T. supaya memberikan hidayah kepada suaminya. Suatu hari suaminya berkata : "Suatu hari nanti akan aku buat kamu kecewa dengan bacaan-bacaanmu itu."
Untuk membuat sesuatu yang memeranjatkan isterinya, dia memberikan wang yang banyak kepada isterinya dengan berkata, "Simpan duit ini." Isterinya mengambil duit itu dan menyimpan di tempat yang selamat, di samping itu suaminya telah melihat tempat yang disimpan oleh isterinya. Kemudian dengan senyap-senyap suaminya itu mengambil duit tersebut dan mencampakkan beg duit ke dalam perigi di belakang rumahnya.
Setelah beberapa hari kemudian suaminya itu memanggil isterinya dan berkata, "Berikan padaku wang yang aku berikan kepada engkau dahulu untuk disimpan."
Kemudian isterinya pergi ke tempat dia menyimpan duit itu dan diikuti oleh suaminya dengan berhati-hati dia menghampiri tempat dia menyimpan duit itu dia membuka dengan membaca, "Bismillahirrahmanirrahiim." Ketika itu Allah S.W.T. menghantar malaikat Jibrail A.S. untuk mengembalikan beg duit dan menyerahkan duit itu kepada suaminya kembali.
Alangkah terperanjat suaminya, dia berasa bersalah dan mengaku segala perbuatannya kepada isterinya, ketika itu juga dia bertaubat dan mula mengerjakan perintah Allah, dan dia juga membaca Bismillah apabila dia hendak memulakan sesuatu kerja.
hanya ada 6 golongan yang tidak bertanggungjawab untuk menjawab salam
Islam adalah agama yang damai dan kasih sayang. Islam adalah agama yang sentiasa menyebarkan kedamaian dan ketenteraman bagi seluruh umat manusia. Tidak hanya kedamaian bagi umat Islam, tapi juga bagi umat agama lain.
Islam itu bererti keselamatan, kedamaian, ketenangan dan kesejahteraan. Sudah selayaknya bila setiap Muslim sentiasa menyebarkan salam dan kedamaian, baik kepada orang yang sudah dikenali mahupun yang belum.
Abdullah bin Amru bin Ash RA bertanya kepada Rasulullah SAW, "Bagai manakah Islam yang baik itu?" Beliau menjawab; "Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal atau tidak." (Mut tafaq 'alaih).
Imam Malik dalam kitabnya al-Mu wattha 'menjelaskan, suatu hari Thu fail bin Ubai bin Kaab menemui Abdullah bin Umar, lalu dia mengajak Thu fail ke pasar. Thufail kemudian bertanya kepada Ibnu Umar, "Apa yang kamu lakukan di pasar nanti? Sebab aku yakin, kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak menawar sesuatu, dan tidak akan duduk-duduk saja di pasaran? Lebih baik di sini saja kita berbincang-bincang, "ujar Thufail. Abdullah menjawab, "Wahai Abu Bathan (panggilan Thufail), kita pergi ke pasar untuk me nyebarluaskan salam. Kita ucapkan sa lam kepada siapa saja yang kita jumpai di pasaran. "(Lihat pula dalam kitab al-Jami ').
Menyebarluaskan salam adalah perintah Allah dan Rasulullah SAW. Dalam Al-Quran, perintah menyebarkan salam itu terdapat pada surah an-Nur ayat 27 dan 61, an-Nisa [4]: 86, adz-Dzariyat: 24-25). Kerana itu, menyebarkan salam merupakan kewajipan setiap Muslim.
Abu Umarah al-Bara 'bin Azib RA berkata, "Rasulullah SAW menyuruh kami melaksanakan tujuh perkara, yakni menjenguk orang yang sakit, menghantarkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, me nyebarluaskan salam, dan menepati janji. "(Muttafaq alaih).
Menyebar salam bererti menyebarkan kedamaian dan keselamatan. Kerana, makna dari kalimat "Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh" adalah semoga Allah memberikan kedamaian (kesejahteraan), me rahmati serta keberkatan kepada kalian semua. Kalimat di atas bererti mengajak setiap umat dan orang yang mendengarnya untuk sentiasa cinta akan kedamaian dan keselamatan. Dengan salam pula, diharapkan seluruh umat akan terhindar dari sikap permusuhan dan kebencian.
Dan sebagai seorang Muslim, kewajipan kita adalah menjawab salam, jika ada orang yang memberi salam. Jawapan salah itu hendaknya dengan ucapan yang sama atau bahkan lebih baik lagi, yakni "Wa'alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh" (Semoga Allah juga memberikan keselamatan, kedamaian, dan keberkatan kepada kalian).
Hanya ada enam golongan yang tidak bertanggungjawab menjawab salam yang disampaikan kepadanya, yakni orang mati, orang yang tertidur, orang gila, orang tuli, orang bisu, dan orang kafir.
Jika kita enggan untuk menjawab salam, maka di manakah kita di antara enam golongan tersebut? Semoga Allah merahmati kita semua. Amin.
3 golongan yang layak untuk meminta
Dari Qabishah bin Mukhariq al-Hilali r.a katanya,:Aku pernah menanggung hutang (untuk mendamaikan dua kabilah yang saling bersengketa). Lalu aku datang kepada Rasulullah s.a.w meminta bantuan kepada baginda untuk membayarnya. Jawab baginda,:Tunggulah hingga orang datang menghantarkan zakat, nanti kusuruh serahkan kepadamu. Kemudian baginda melanjutkan sabdanya, Hai Qabishah! Sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh (tidak halal) kecuali untuk tiga golongan:
1) Orang yang menanggung hutang (gharim, untuk mendamaikan dua orang yang bersengketa atau seumpamanya). Maka orang itu boleh meminta-minta, sehingga hutangnya langsai. Apabila hutangnya telah selesai, maka tidak boleh lagi dia meminta-minta.
2) Orang yang ditimpa bencana, sehingga harta bendanya musnah. Orang itu boleh meminta-minta sehingga dia memperolehi sumber kehidupan yang layak bagi dirinya.
3) Orang yang ditimpa kemiskinan, (disaksikan atau diketahui oleh tiga orang yang dipercayai bahawa dia memang miskin). Orang itu boleh meminta-minta hingga dia memperolehi sumber kehidupan yang layak. Selain tiga golongan tersebut , haram baginya meminta-minta dan haram pula baginya memakan hasil perbuatan meminta-minta itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)